cookingSaat menjelang menikah ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya. Bukan perkara besar tapi cukup penting. Yaitu bisakah saya memasak untuk suami saya nanti?. Lahir sebagai anak terakhir di keluarga, bisa dibilang membuat saya agak dimanjakan. Apalagi jarak saya dengan kakak saya cukup jauh. Singkat cerita, saya tidak pernah merasakan kelaparan dan harus memasak sendiri.

Berbekal dari pengalaman itu bisa dibayangkan bagaimana hari pertama saya tinggal berdua saja dengan suami. Bangun pagi dan harus sarapan. Untungnya naluri saya sebagai perempuan lumayan besar. Saya bertekad untuk tetap menyiapkan makanan walaupun cuma ala kadarnya.

Tetapi di usia pernikahan kita yang sudah menginjak usia 1 tahun, Alhamdulillah saya sudah terbiasa dengan pekerjaan memasak. Namun saya akui kegiatan di dapur terkadang cukup membosankan. Ada kalanya saya ingin memesan makanan dari restoran saja. Mengapa sih kita kadang malas masak, berikut beberapa alasan seorang ibu enggan memasak.

1. Tidak Suka
Saya pernah bertemu dengan orang yang memang mendeklarasikan dirinya tidak suka masak. Saya tanya kepada dia, apakah suaminya keberatan dengan itu? tidak, saya sudah bilang itu sejak awal bertemu, dan dia sangat menghargai pilihan saya. Ketika kita bilang tidak suka, maka hal apapun yang akan kita lakukan akan sia-sia. Berbeda jika kita bilang, kita tidak bisa. Maka banyak cara untuk belajar menjadi bisa memasak.

2. Sibuk
Ada ibu yang mempunyai segudang acara dan kegiatan seharian di luar rumah. Mungkin ia bisa memasak, namun tak pernah ada waktu untuk melakukannya. Dan jikalau pun ada kesempatan, ia akan memilih untuk melakukan kegiatan lain yang lebih santai, seperti tidur atau nonton tv. Sesekali menyempatkan diri memasak sesuatu untuk keluarga akan menjadi pekerjaan yang menyenangkan bagi ibu yang sibuk. Anak anda pasti bangga memiliki ibu yang bisa melakukan apapun untuknya.

3. Menu yang Sulit
Saat memakan sop iga di restoran, kadang kita berpikir bumbu apa saja yang dimasukkan ke mangkuk ini. Bisakah saya memasak menu yang rumit seperti ini. Apa saja yang harus saya persiapkan untuk bisa membuat menu seenak ini. Pikiran-pikiran itu membuat langkah Anda untuk memasak menu baru jadi tersendat. Apalagi jika bahan-bahan yang dibutuhkan asing di telinga. Sebenarnya memasak bukan kegiatan instan, untuk bisa menghasilkan makanan yang kita mau perlu beberapa tahapan yang cukup lama. Salah satunya senang bereksperimen dan tidak merasa terbebani.

4. Pernah Gagal
Ini saya banget. Saat saya masak sebuah menu dan hasilnya tidak memuaskan, saya menjadi enggan untuk mencoba lagi esoknya. Sementara jika masakan yang saya buat itu jadinya enak, maka saya semangat untuk membuat menu itu lagi. Sebenarnya tidak ada masalah dengan kegagalan atau tidak enak. Saya jamin, chef terbaik di dunia sekalipun pernah mengalami kekurangan dalam masakannya. Jadi jangan patah semangat ya ibu. Coba terus sampai berhasil. (ngomong ke diri saya juga) 😀

5. Ada yang Mewakili untuk Memasak
Saat ibu saya tinggal di rumah, hasrat saya untuk memasak menjadi menurun. Yang tadinya pagi-pagi sudah di dapur, sekarang tinggal sarapan di meja makan. Makanannya juga enak-enak lagi. Pikir saya buat apa memasak, masakan ibu saya sudah paling enak, suami juga suka :D. Walhasil ketika ibu menginap di rumah anaknya yang lain, saya keringat dingin. Seperti kaku harus memegang atribut masak beserta bumbu-bumbu ajaib itu lagi. Tapi apa mau dikata, saya tetap memasak kalau tidak mau perut kelaparan. Selamat memasak ibu, semoga suami dan anak di rumah lahap makannya.

The following two tabs change content below.

LEAVE A REPLY