Awalnya saya nggak begitu parno dengan urusan ban leher ini. Malah ketika anak saya yang kecil usia 5 bulan, saya yang paling semangat mengajaknya ke baby spa dekat rumah. Bukan apa-apa, saya penasaran karena dulu si abang gagal diajak berenang disana, boro-boro diurut, saat ditimbang saja si abang udah nangis kejer. Hehe.

Dan ternyata feeling emak kali ini bener. Si adik anteng banget menjalani semua prosesnya. Dari buka baju dia ketawa-ketawa, dipasang ban leher juga santai aja. Sampai dipijat juga masih sumringah. Cuma di-ending karena dia haus jadi mulai rewel, jadilah pijat sambil menyusui. But overall, so far so good than before.

Singkat cerita, saya baru aware saat membaca salah satu status teman di sosial medianya-nya bahwa ban leher tidak aman untuk bayi. Ah masa siih. Kemarin mbak therapis-nya bilang aman aman aja kok. Malah pas saya tanya, beneran nih mbak ngak pa pa? Soalnya saya ngeri liatnya, takut dia kelelep. Mbaknya dengan yakin bilang, “nggak apa-apa bu, tenang aja,”.  Oke deh, si adik juga sukses berenang sampe kurang lebih 15 menit.

Dan pas malamnya saya mulai curiga, si adik kenapa kenapa. Karena nggak biasanya dia nangis cukup lama dan nggak mau ditaro di kasur. Semenjak itu saya tak tertarik lagi membawa anak saya ke baby spa. Dan setelah saya telusuri, ternyata ban leher memang tidak aman bagi bayi untuk berenang, apa saja bahaya ban leher bagi anak Bunda:

1. Bisa menyebabkan keram leher

Nah saya menduga ini yang dirasakan anak saya ketika itu, keram. Dia merasa ada yang sakit di tubuhnya sehingga menangis-nangis cukup lama. Mungkin simpelnya, pegel kali yah, karena kelamaan lehernya (dipaksa) tegak beberapa menit di dalam air. Dan dari informasi ahli medis yang saya baca, ternyata pelampung leher yang dikenakan bayi di bawah usia 5 bulan dapat menimbulkan tekanan pada tulang belakang di bagian leher bayi serta membuat otot dan ligamen menjadi tegang. Semakin lama pemakaian ban leher pada bayi, resiko terjadi keram leher semakin besar.

2. Menghambat Tumbuh Kembang

Selain itu, pelampung bayi juga bisa menghambat tumbuh kembang tulang punggung bayi. Pelampung leher membatasi gerak tulang punggung bayi sehingga dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan tumbuh kembangnya kelak, seperti saat belajar duduk, berdiri hingga berjalan.

3. Beresiko Tenggelam

Sebagai orang tua sebaiknya tidak percaya 100% dengan omongan orang, terlebih yang menyangkut keselamatan anak. Meski dibilang aman, pemakaian pelampung bayi tetap memiliki resiko tenggelam. Seperti dilansir dari Good Housekeeping, pelampung bayi yang berisi udara itu bisa bocor dan beresiko tinggi membuat bayi tenggelam. Bahkan ada potensi bahaya yang bisa menyebabkan kematian karena beberapa ban leher tidak dirancang untuk membuat perenang aman seratus persen.

4. Membuat bayi tidak nyaman

Tujuan saya membawa si adek ke baby spa agar dia suka dengan aktivitas berenang dan bebas berekplorasi. Namun bagaimana bila aktivitas air tersebut justru menjadi tidak menyenangkan karena dia “ditinggal sendiri” di kolam spa-nya. Yah karena yang bisa kita lakukan di kolam spa hanya menonton anak kita berenang dan sesekali merekamnya bukan (abis itu posting ke instagram, hehe saya banget :D) .

Padahal menurut anggota Asosiasi Guru Renang, Kayle Burgham, esensi dari berenang bayi adalah kontak manusia. Alangkah baiknya bila aktivitas berenang menjadi kegiatan bonding antara anak dan orangtuanya. Dia menganjurkan para orang tua ikut menjelajahi air bersama sang anak, agar kegiatan berenang bisa menjadi santai, aman dan menyenangkan. Yuk berenang bareng anak Bunda!.

 

The following two tabs change content below.
mm
A Happy Mom with 2 adorable children

LEAVE A REPLY