Perasaan gagal kerap menyelimuti jiwa seorang ibu. Terkadang kita berpikir, “Apakah saya sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak yah, kenapa anak kerap tidak menurut, kenapa anak kok sakit terus, apakah saya tidak becus menjadi ibu?, kenapa saya kok marah-marah terus,”.

Pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat ibu merasa gagal dan bersalah, ujung-ujungnya tertekan dan emosi. Apalagi tuntutan dunia sosial media yang mengharuskan ibu terlihat sempurna. Mulai dari pola makan anak yang wajib ideal, MPASI harus homemade, jika sakit tidak boleh minum antibiotik, tidak boleh ini-itu, sampai ke penampilan ibu pun mesti cantik dan enak dipandang.

Padahal di tengah perjuangannya menjadi ibu, tuntutan-tuntutan itu hanya membuat dirinya semakin tidak bahagia. Menurut Merry Riana, Motivator Indonesia, yang kami temui di Youtube Fanfest di Central Park beberapa pekan yang lalu, seorang ibu jangan berprinsip untuk menjadi sempurna, apalagi merasa dirinya gagal menjadi ibu.

Miss Merry menegaskan, nggak ada yang namanya ibu yang sempurna. Untuk itu, jangan berusaha menjadi ibu yang sempurna, tapi berusahalah menjadi ibu yang bahagia. “Karena yang anak butuhkan bukan ibu yang sempurna, tapi ibu yang bahagia,” terang Merry. Berhentilah menuntut diri menjadi sempurna, karena pada prinsipnya seorang ibu pasti mempunyai kekurangan dan kesalahan. Fokuslah terhadap perkembangan dan kebutuhan anak, bukan keinginan dan tuntutan orang lain. Sehingga kita akan menjadi ibu yang lebih bahagia.

Yang Menguatkan Ibu adalah Cinta

Tapi bila kita terlalu lelah, bolehkan Ibu menangis, “nangis boleh, karena menurut saya nangis itu adalah sesuatu yang manusiawi. Justru kalau tidak nangis itu nggak manusiawi. Kalau gak nangis justru itu nggak baik,” papar miss Merry. Emosi di dalam tubuh itu diibaratkan seperti racun, bila racun itu dipendam terus di dalam tubuh, ia akan menjalar kemana-mana. Jadi terkadang menangis adalah alat untuk mengeluarkan racun di dalam tubuh kita.

Ibu pasti tahu betapa beratnya mengurus anak dan mengatur semua urusan rumah dan keluarga sekaligus. Apalagi jika si kecil semakin berulah dan menguras kesabaran kita terus menerus. Lalu gimana yah supaya kita tetap sabar, kuat dan tulus?. Ternyata yang menguatkan seorang ibu adalah CINTA. “Karena menurut saya cinta itu merupakan sumber kekuatan dan saya percaya cintalah yang membuat orang tua rela berkorban untuk anaknya,” jawab Merry.

Betapapun kesalnya kita dengan anak, selelah apapun badan ini hari ini, tapi selalu ada cinta yang menguatkan kita untuk tetap bertahan. Masih terbayang perjuangan ibu selama 9 bulan mengandung dan perjuangan hidup mati saat melahirkan, sungguh semua itu karena cinta. “Dan cintalah yang membuat anak sesulit apapun kondisinya rela berkorban demi orang tuanya, It’s always love,” tutur public speaker yang juga Ibu dari 2 anak.

 

Tim Liputan : Dina Amelia, Editor: Lisa Haqi

LEAVE A REPLY