Multitasking atau tugas ganda sebenarnya merupakan istilah yang digunakan pada komputer, yakni teknologi informasi yang mengacu pada metode di mana banyak pekerjaan diproses dengan CPU (Central Processing Unit) yang sama. Nah, ternyata perempuan juga bisa multitasking lho, Bunda, bukan cuma komputer aja.

Para ibu rumah tangga bisa mengerjakan tugas sekaligus dalam waktu bersamaan, Bukan? Bunda bisa menonton televisi sambil menyuapi anak makan, juga sambil mengobrol misalnya. Bunda bisa menyapu sambil memasak dan hal-hal lain yang bisa Bunda lakukan secara bersamaan. Hal tersebutlah yang dinamakan multitasking. Sementara para Ayah? Wah, ternyata laki-laki tidak bisa melakukan multitasking seperti Bunda, lho! Kenapa ya?

Menurut keterangan dr. Aisyah Dahlan, laki-laki tidak bisa melakukan multitasking seperti perempuan karena otaknya didesain berbeda dari perempuan di mana penghubung antara otak kanan dan kiri (corpus collosum) laki-laki lebih tipis. Hal tersebut menyebabkan laki-laki hanya bisa fokus pada satu hal saja. Laki-laki tidak bisa melakukan beberapa pekerjaan secara bersamaan. Sementara perempuan, yang corpus collosumnya lebih tebal, hal tersebut membuat perempuan bisa melakukan multitasking, yakni mampu melakukan pekerjaan secara bersamaan. Namun, meskipun perempuan pandai dalam multitasking, ternyata perempuan payah dalam membaca peta atau arah jalan jika dibandingkan laki-laki. Perempuan juga lebih mudah menangis jika dibandingkan dengan laki-laki yang terlihat tegar meskipun sebenarnya tengah sedih. Jadi, sehebat apa pun Bunda dalam multitasking, tetap membutuhkan seorang laki-laki yah.

dr. Aisyah Dahlan yg sering memberikan materi tentang perbedaan otak laki-laki dan perempuan.

Secara karakter antara perempuan dan laki-laki memang sangat berbeda. Otak kanan laki-laki berkembang lebih dahulu daripada otak kirinya, sementara perempuan kedua-keduanya berkembang secara bersamaan. Nah, itulah sebabnya kenapa kita suka melihat anak laki-laki lebih santai karena otak yang berkembangnya kanan dahulu di mana di situ berisi kreatifitas, warna, visualisasi, intuisi, holistik, musik dan bentuk atau gambar.  Sedangkan otak kiri berisi analisa, kata-kata, matematika, fakta, syair dan detail.

Selain itu ada banyak perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan seperti misalnya perempuan jika bercerita hanya mau disimak, sementara itu laki-laki saat mendengar perempuan bercerita ingin memberikan solusi sebagai rasa tanggung jawabnya. Selanjutnya, perempuan jika marah tidak mau berterus terang dan ingin ditanya berkali-kali baru mau berkata jujur, sedangkan laki-laki justru saat marah tidak ingin ditanya-tanya karena biasanya laki-laki akan diam demi mencari solusi. Perbedaan lainnya ialah perempuan senang dengan kontak mata dan laki-laki tidak bisa.

Tak Selamanya Multitasking itu Baik

Multitasking sendiri meskipun terlihat hebat, tetapi ternyata juga mempunyai dampak buruk lho Bunda! Sebuah studi penelitian di University Of Copenhagen, Denmark menjelaskan bahwa berganti fokus dari satu hal ke hal yang lain menyebabkan otak menyimpan informasi lebih sedikit. “Multitasking bisa dilakukan selama seseorang masih kuat untuk melakukan beberapa kegiatan secara bersamaan. Tetapi kalau ia sudah kesulitan melakukan banyak hal secara bersamaan, bisa membuatnya stres,” tutur Psikolog Bernadetta Anjani.

Selain itu, sebuah penelitian di University Of London menunjukkan bahwa multitasking mampu menurunkan IQ seseorang ketika dia diberikan tugas yang berkaitan dengan kognitif. Multitasking juga dapat mengurangi tingkat produktivitas seseorang, membuat kinerja menjadi lambat dan juga membuat hasil menjadi tidak maksimal karena fokus terpecah-pecah.

Lantas, perlukah suami multitasking seperti Bunda?

Sepertinya karena corpus collosum otak laki-laki yang tidak memungkinkan, hal tersebut tentu menyulitkan yah Bunda untuk suami dapat melakukan multitasking seperti Bunda. Nah, meskipun suami tidak bisa melakukan multitasking, ada kalanya juga suami mau membantu Bunda saat Bunda tengah kerepotan, bukan? Karena suami yang baik umumnya tidak akan membiarkan istrinya kelelahan, sebab pasangan suami istri selalu berusaha untuk saling melengkapi. Jadi jangan bingung lagi yah Bun, jika si Ayah sulit multitasking.

 

 

LEAVE A REPLY