Bunda, sebelumnya apakah Bunda sudah tahu apa itu Speech Delay? Speech Delay atau gangguan terlambat berbicara adalah kondisi di mana seorang anak mendapatkan kesulitan dalam hal mengekspresikan perasaan atau keinginannya. Seorang anak dapat dikatakan mengalami Speech Delay ketika sudah memasuki usia satu setengah tahun, tetapi belum bisa berbicara beberapa kata yang termasuk kata-kata mudah seperti Mama, Papa atau Mam yang umumnya sudah bisa diucapkan oleh anak seusia itu. Jika anak menunjukkan tanda-tanda tersebut (belum bisa mengucapkan kata-kata mudah) dan terlihat terlalu pasif, maka sudah seharusnya Bunda bersikap waspada, ya.

Lantas, apa sih yang menjadi faktor penyebab Speech Delay terhadap anak? Sebenarnya untuk faktor penyebabnya sendiri, terbagi atas dua hal yakni faktor yang bersifat internal dan eksternal.

Faktor Internal

Untuk faktor yang satu ini berkaitan dari dalam diri anak itu sendiri, seperti misalnya karena keturunan, gangguan di otak, hambatan pada perkembangan otak, masalah pada pendengaran dan kelainan pada organ bicara.

Faktor keturunan terjadi ketika ada anggota keluarga yang mengalami Speech Delay, maka bisa berpengaruh bagi keturunannya. Untuk gangguan pada otak sendiri, hal tersebut terjadi karena otak si anak mengalami masalah dalam proses perkembangan sehingga tentu saja berpengaruh terhadap respons anak itu seperti misalnya  daya tangkap dan ingat yang lambat di mana ia akan merasa sulit mengerti terhadap hal-hal apa yang ia lihat dan dengar, juga kemudian membuat ia sulit mengekspresikan perasaan.

Selanjutnya, masalah pada pendengaran juga berpengaruh. Jika anak mengalami Speech Delay, sebaiknya Bunda juga periksakan indra pendengaran sang anak, apakah bermasalah atau tidak. Jika terbukti bermasalah, tentu akan ada penanganan lebih lanjut dari dokter yang Bunda datangi tersebut, misalnya dengan memberikan alat bantu untuk mendengar. Sementara untuk kelainan organ bicara, bisa disebabkan oleh otot rahang yang kurang kuat biasanya terlihat ketika anak tidak bisa makan makanan yang padat. Dalam hal ini, bisa diatasi dengan cara “meniup” di mana otot rahang akan dilatih untuk bergerak, meskipun tidak bisa terjadi secara instan yakni di mana setelah melakukan terapi meniup, anak langsung mudah atau bisa berbicara. Tentunya juga harus menjalani beberapa latihan lain seperti anak sering diajak berinteraksi.

2. Faktor Eksternal

Faktor ini berkaitan dengan hal-hal yang terjadi di lingkungan anak seperti anak lebih sering bermain sendiri, kurangnya latihan berbicara, terlalu banyak menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau bermain gadget sehingga anak tersebut menjadi pribadi yang pasif. Kurangnya interaksi anak terhadap orang-orang di lingkungan sekitar bisa menjadi salah satu penyebabnya. Jadi, usahakan supaya si kecil rajin berinteraksi, ya, Bunda.

Satu lagi Bunda, jangan mengajarkan anak kita dua atau lebih bahasa karena karakter anak berbeda-beda. Ada anak yang bisa menerima langsung ketika Bunda mengajarkan ia dua bahasa sekaligus, ada juga yang tidak bisa menerimanya dan malah menghambat kemampuan dalam berbicara. Bunda boleh mengajarkan si kecil bahasa-bahasa asing, tetapi harus dilihat terlebih dahulu kemampuan anak tersebut apakah ia mampu atau tidak. Jika tidak mampu, maka sebaiknya ajarkan bahasa Indonesia lebih dahulu, baru setelah si kecil sudah menguasainya, Bunda bisa mulai mengajarkan bahasa-bahasa yang lain.

Selanjutnya, bagaimana sih tahap perkembangan seorang anak dari usia 1 sampai 5 tahun?

1. Usia 12-18 bulan

Umumnya, di umur 12-18 bulan, seorang anak sudah bisa mengucapkan kata-kata mudah seperti Mama dan Papa. Sementara itu, jika di usia 12 bulan si anak sudah bisa 5-50 kata, maka pada usia 18 bulan ia sudah bisa menyampaikan sebagian besar keinginannya.

2. Usia 18-24 bulan

Anak sudah memiliki banyak kosakata. Ia juga bahkan sudah bisa membuat kalimat yang terdiri atas dua kata seperti “Minum susu”, “Mama makan” dan dapat mengerti jika diperintah.

3. Usia 2-3 tahun

Di usia ini, anak sudah bisa menggunakan kalimat berisi 2 sampai 3 kata, bahkan lebih ya Bunda ketika umurnya sudah hampir memasuki usia tiga tahun. Anak juga sudah mulai bisa menggunakan kalimat tanya.

4. Usia 3-5 tahun

Nah, di usia ini anak sudah mulai aktif bercerita dan tertarik mendengarkan cerita orang lain. Ia juga sudah bisa menggunakan kalimat panjang berisi 4 kata per kalimat, bisa menggunakan kata jamak seperti “teman-teman”, sudah mengerti ketika ditanya dan sudah bisa menggunakan kata ganti seperti kamu, aku dan dia.

Dan berikut ini, kiat-kiat yang bisa Bunda lakukan supaya anak tidak mengalami Speech Delay atau terlambat berbicara:

Batasi Media Gadget dan Televisi di Rumah

Jika anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan bermain gadget atau menonton televisi, maka akan menjadi pribadi yang pasif meskipun gadget dan televisi bisa menjadi salah satu media pendidikan, tetapi sebaiknya batasi waktu si kecil terhadap kedua benda itu, ya, Bunda. Usahakan anak untuk rajin berinteraksi dengan keluarga, teman dan orang-orang di lingkungan sekitar.

Rajin Berinteraksi dengan Anak

Bunda ingin si kecil terhindar dari Speech Delay, maka luangkan waktu Bunda atau suami untuk berinteraksi dengan si kecil. Ajak ia bermain, mengenal gambar-gambar, huruf dan angka. Belikan buku-buku berisi gambar-gambar tumbuhan atau hewan dan perkenalkan si kecil terhadap hal-hal yang ia lihat di buku tersebut. Bisa juga dengan cara menceritakan dongeng-dongeng dan ajak si kecil lebih banyak berbicara. Saat bayi baru lahir pun, Bunda harus sering-sering mengajaknya berbicara untuk menghindari Speech Delay.

Biarkan Anak Bermain dengan Teman Seusianya

Banyak berinteraksi membuat anak menjadi lebih pandai berbicara. Saat bermain dengan teman, mereka juga bisa belajar bersama-sama mengenal banyak hal. Dengan begitu, ia pun menjadi pintar dalam berkomunikasi dan belajar mengerti setiap hal yang ia temukan. Jadi, biarkan anak belajar berinteraksi dengan anak-anak lain seusianya dan jangan lupa untuk tetap mengawasi anak ketika bermain, ya, Bunda.

Speech Delay sendiri bisa dialami oleh siapa saja, Bunda. Karena itu sebagai seorang Ibu yang tentu ingin yang terbaik untuk anaknya, kita harus rajin mencari tahu banyak hal seputar perkembangan si kecil. Jika ditemukan hal-hal yang janggal pada diri sang anak, tentu kita sebagai seorang Ibu sudah harus waspada.

Speech Delay ini termasuk salah satu masalah yang nantinya bisa berdampak pada beberapa hal. Seperti misalnya anak dibully karena kekurangannya itu yang tentu dapat mempengaruhi rasa percaya dirinya nanti. Anak menjadi minder dan jadi melupakan bakatnya. Selain itu, juga berpengaruh pada nilai akademik dan prestasinya. Bisa jadi, ketika anak tersebut terlalu larut dalam kesedihan karena dibully, ia jadi melupakan hal-hal lain seperti misalnya ‘keistimewaan apa yang ia punya’ karena terlalu fokus pada apa yang orang lain katakan tentang kekurangannya. Anak menjadi malas bermain atau berinteraksi dengan teman, tidak mau sekolah karena takut dibully lagi dan malas belajar karena sudah merasa bahwa diri sendiri buruk.

Selain itu, jika anak mengalami masalah terhadap kemampuan berbicara yang kemudian juga ditandai dengan tidak adanya kontak mata saat diajak berinteraksi, maka hal tersebut menjadi salah satu tanda bahwa anak itu mengalami autis. Wah, dampaknya bisa sangat berbahaya, ya, Bunda.

Ayo mulai sekarang lebih banyak meluangkan waktu untuk si kecil dan ajak ia berinteraksi sesering mungkin untuk menghindari Speech Delay.

LEAVE A REPLY