Di era globalisasi ini, anak-anak kita dihadapkan oleh berbagai macam persoalan seperti misalnya narkotika, situs dan konten pornografi, serta pengaruh LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) terhadap generasi muda. Di beberapa film kartun anak, bahkan terdapat unsur LGBT jika kita perhatikan lebih teliti, seperti misalnya kartun Sailor Moon di mana Sailor Neptunus dan Sailor Uranus merupakan pasangan lesbian.

Bahkan baru-baru ini Disney dikabarkan akan mengeluarkan sekuel Frozen 2 dan menampilkan tokoh utamanya, Elsa, sebagai seorang lesbian. Pemerhati Pendidikan dari Muslimah Jama’ah Muslimin Lampung, Muhajiroh pun mengimbau supaya orangtua jauhi anaknya dari film kartun Frozen 2. “Jika sekuel Frozen 2 benar-benar membuat lesbian maka dapat menimbulkan pemikiran pada anak-anak bahwa lesbian itu diperbolehkan. Dan tentunya ini berbahaya bagi perkembangan otak anak,” ucap Muhajiroh, dikutip dari minanews.net.

Selain itu, beberapa film kartun lain seperti Beauty and the Beast, My little Pony, How to Train Your Dragon 2, Finding Dory dan sebagainya pun dikabarkan mengandung unsur LGBT sehingga bahaya ditonton oleh anak-anak. Tentu saja kita sebagai orangtua menjadi resah ya Bunda dengan maraknya fenomena LGBT tersebut. Terlebih LBGT memang hal yang membahayakan bagi tumbuh kembang anak-anak kita.

Bahaya LGBT bagi Keluarga khususnya Anak-Anak

Para orangtua benar-benar harus perhatikan pola asuh anak dari usia balita hingga dewasa karena sejak lahir seorang anak sudah mempunyai dua sisi, yakni maskulin dan feminim. Jika si kecil sering melihat hal-hal yang berhubungan dengan penyimpangan di film-film kartun, media sosial dan lain-lain tentu sangat berbahaya. Mereka mungkin akan berpikir bahwa hal-hal tersebut diperbolehkan untuk dilakukan, karena dunia kanak-kanak memang dunia belajar yang sudah pasti akan meniru apa yang mereka lihat.

Secara tidak langsung hal tersebut dapat merusak karakter si anak dan juga masa depannya. Mereka akan mudah terpengaruh oleh apa yang mereka tonton, otak mereka akan berpikir dan merekam, sehingga kemudian perlahan-lahan mereka pun akan mencontoh hal yang mereka lihat tersebut.

Kerugian LGBT

Dari segi kesehatan, menjadi LGBT sangatlah merugikan. Data dari CDC (Centers For Disense Control and Prevention) Amerika Serikat pada tahun 2010 menunjukkan dari 50 ribu infeksi HIV, dua pertiganya adalah gay. Data CDC di tahun 2013, menunjukkan gay yang berusia 13 tahun ke atas 81 persen di antaranya terinfeksi HIV dan 55 persennya terdiagnosis AIDS. Sementara itu, wanita transgender memiliki risiko terinfeksi HIV 34 kali lebih tinggi daripada wanita biasa.

Di Indonesia pun penularan HIV pada kalangan LGBT semakin meningkat. Di mana pada tahun 2008 hanya tertular 6 persen menjadi 8 persen di tahun 2010 dan 12 persen di tahun 2014.

Selain itu, dengan menjadi LGBT pun anak-anak sudah pasti akan kehilangan masa depannya. Membuat dirinya sendiri menjadi jauh atau asing di dalam keluarga dan mungkin akan menjadi pribadi yang lebih tertutup. Mereka sudah pasti akan kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal bermanfaat lainnya, seperti membahagiakan orangtua, meraih impian dan cita-cita.

Bagaimana Proteksi atau Perlindungan Orangtua dari LGBT terhadap Anak

Anak Usia 2-4 Tahun

Fase pembentukan karakter anak di mana si kecil mulai memahami perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Di sini pola asuh orangtua baik Ayah maupun Ibu harus seimbang. Untuk Ayah yang merupakan seorang kepala rumah tangga, diharapkan agar jangan berlaku kasar terhadap anak karena jika Ayah bersikap kasar, maka si kecil bisa saja beranggapan bahwa laki-laki itu jahat. Pada fase ini orangtua juga harus memberikan pendidikan seks yang benar, seperti misalnya organ intim yang merupakan bagian sensitif pada tubuh tidak boleh disentuh oleh orang lain.

Dalam fase pembentukan karakter ini pula sebaiknya anak-anak diajarkan supaya berperilaku baik, seperti misalnya menepati janji, tidak suka berbohong dan sebagainya. Orangtua pun harus memberikan kesempatan setiap kali si kecil ingin berbiacara dan cobalah untuk mengontrol pelan-pelan segala keinginan si kecil.

Anak Usia 5-10 Tahun

Di fase ini anak-anak sudah bisa diajarkan perihal agama dan sudah bisa membedakam mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jadi tugas orangtua adalah harus berikan ajaran agama yang benar kepada anaknya. Di samping itu, orangtua juga harus perhatikan hobi dan kebiasaan si kecil. Selalu berikan kasih sayang yang sewajarnya serta rajin-rajin mengabiskan waktu bersama dengan anak dengan pantaulah bacaan dan tontonannya. Di usia ini, anak juga sudah bisa diajarkan untuk tidak boleh mempermainkan bagian tubuh yang sensitif.

Anak Usia 11-15 Tahun ke Atas

Anak sudah mempunyai banyak teman dan kenalan di usia ini, sehingga orangtua tentu harus perhatikan betul-betul pola pergaulannya saat di luar rumah. Jangan sampai anak kita terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak sehat. Orangtua juga harus lebih selektif dalam memilih film dan bacaan untuk anak. Selanjutnya cari tahu akun sosial medianya dan pantaulah terus aktifitasnya di dunia maya. Jangan sampai anak kita mengkonsumsi hal-hal yang tidak bagus lewat internet.

Di usia ini, anak pun sudah lebih dewasa. Dia pasti sudah mengalami fase-fase di mana tertarik dengan seseorang dan hal-hal baru. Orangtua harus lebih pintar-pintar mendampingi sang anak, meskipun begitu jangan sampai membuat anak merasa terlalu dikekang karena hal tersebut justru malah dapat membuat anak menjadi pribadi yang senang memberontak. Tetap pantau pergaulan anak dalam batasan yang baik dan tidak membuatnya merasa terkekang dan coba untuk mulai diskusikan perihal masa depannya, apa yang menjadi harapan dan cita-citanya di masa mendatang.

Menurut Syafi’i, Praktisi Pendidikan Remaja dan Pendidikan di SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa menjelaskan, bahwa orangtua harus benar-benar bisa mengambil perannya dengan baik sebagai orangtua. Di sini berarti orangtua harus membentengi anaknya secara benar-benar dari bahaya LGBT, terutama sosok Ayah yang menjadi pemimpin di dalam keluarga.

“Jangan sampai karena kesibukan bekerja, Ayah antara ada dan tiada dalam kehidupan anak-anaknya. Karena, anak-anak yang fatherless inilah yang rentan terkena virus LGBT. Mereka kehilangan sosok Ayah sebagai panutan. Padahal, sosok Ayah ini sangat penting dalam pendidikan anak,” ujar Kak Syaf, dikutip dari dompetdhuafa.org.

Setiap orangtua sudah pasti tidak menginginkan masa depan anaknya hancur karena terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik. Karena itu proteksi terhadap dunia luar benar-benar harus diterapkan dengan benar. Semoga anak-anak kita selalu terhindar dari kejahatan dunia luar ya, Bunda.

Editor: Lisa Haqi

LEAVE A REPLY