Bukan Thanos, bukan pula monster di Ultraman , hal yang ditakutkan anak adalah perpisahan orang tuanya. Pada dasarnya, perceraian tidak hanya terasa berat bagi pasangan, tetapi juga meninggalkan luka pada hati si kecil. Karena setiap anak tentu menginginkan keluarga yang utuh, dimana ada Ayah dan Ibu yang menyayangi mereka.

Bahkan penelitian mengungkapkan bahwa tingkat depresi lebih tinggi terjadi pada anak korban perceraian. Mereka akan berjuang keras untuk berdamai dengan keadaan selama satu tahun pertama. Meskipun begitu, setiap anak tentu akan merespon perceraian orang tuanya dengan cara yang berbeda. Ada yang perlahan-lahan bisa bangkit dari masa terpuruknya, ada juga yang tidak pernah bisa kembali normal. Apalagi jika anak masih berusia di bawah 12 tahun, mereka akan merasakan down yang luar biasa.

Sementara itu, menurut Carl Pickhardt Ph.D. seorang Psikolog asal Texas, perceraian membawa perubahan besar dalam kehidupan anak, baik anak laki-laki maupun perempuan dan tidak peduli berapa pun usianya. Carl Pickhardt menyatakan, dunia anak-anak sangat bergantung pada orangtua karena mereka menganggap keluarga sebagai tempat utama kehidupan sosial. Sementara pada dunia remaja, mereka tentu sudah lebih mandiri dan jauh dari orangtua. Namun, akibat perceraian khususnya pada remaja akan membuat mereka melakukan tindakan yang menentang atau bertekad untuk melakukan hidup dengan caranya sendiri.

Secara Umum Dampak Perceraian Bagi Anak

1. Sensitif Secara Emosional

Seorang anak dari korban perceraian akan lebih sensitif secara emosional jika dibandingkan dengan anak yang lain yah Bunda. Sebab mereka cenderung merasa kehilangan, sedih, bingung, marah hingga kecewa yang mereka sendiri merasa sulit untuk keluar dari sana. Mereka lebih mudah merasa tersinggung, insecure dengan diri sendiri atau bahkan terasingkan dari lingkungan. Dalam beberapa keadaan, seperti melihat anak lain yang bercanda dengan orangtuanya bisa membuat dia cepat merasa sedih atau justru kembali marah dengan keadaan.

2. Penurunan Akademik

Permasalahan dalam keluarga bisa mengganggu fokus anak terhadap kegiatan di sekolah. Mereka akan merasa terbebani atau bahkan malas untuk mengerjakan tugas karena tertekan dengan perasaan mereka sendiri. Di samping itu, kegiatan belajar mereka tidak ada lagi yang mengontrol, sehingga timbul rasa kecewa yang kemudian membuat mereka merasa tidak peduli lagi dengan nilai akademis di sekolah. Atau dalam beberapa kasus, seorang anak yang kehilangan perhatian di dalam keluarga, cenderung akan mencari perhatian dari luar seperti misalnya mereka senang membuat masalah di kelas, tidak mengerjakan tugas atau bolos yang akhirnya bisa membuat mereka mendapatkan perhatian dari guru.

3. Sulit Beradaptasi

Sebuah perceraian tentu memaksa seorang anak untuk beradaptasi dengan perubahan lebih cepat dari seharusnya. Mereka mungkin akan kesulitan untuk bersosialisasi dengan keluarga yang baru, teman-teman yang baru serta situasi rumah yang terjadi selepas orangtuanya bercerai. Semua hal yang dia temui akan terasa asing sehingga bisa membuatnya menjadi pribadi yang antisosial dan lebih senang menghabiskan waktu sendiri.

4. Merasa Bersalah

Dalam beberapa kasus, ada seorang anak khawatir apakah perceraian orangtua disebabkan oleh kesalahan yang dia lakukan. Sebenarnya, perasaan bersalah ini adalah efek umum yang akan terjadi pada anak korban perceraian, tetapi ternyata bisa menyebabkan masalah lain yang lebih serius seperti misalnya depresi yang berkepanjangan.

5. Kesepian

Bunda, kesepian adalah efek pasti yang akan dirasakan oleh si kecil karena dia merasa kehilangan salah satu orangtuanya. Misalnya, seorang anak korban perceraian yang tinggal bersama Ayah, tentu merasa kehilangan sosok Ibu sebab tidak ada lagi yang membangunkannya ketika pagi, membuatkan sarapan, atau bahkan memarahinya ketika pulang terlambat. Begitu pun sebaliknya, dengan anak korban perceraian yang tinggal bersama Ibu, tentu akan merasa kesepian tanpa kehadiran Ayah yang biasanya mengajak bermain, menonton televisi bersama hingga membicarakan perihal masa depan.

6. Masalah Kesehatan

Karena merasa marah, kecewa, atau sedih yang berlarut-larut, yang akhirnya bisa mengganggu kesehatan si kecil yang disebabkan oleh perasaan malas untuk makan, kesulitan untuk tidur karena terlalu kepikiran, bahkan ada yang merasa tidak semangat lagi untuk menjalani hari dan tidak peduli dengan kondisi fisik yang menurun setiap harinya.

7. Hilangnya Kepercayaan Terhadap Pernikahan

Penelitian menunjukkan risiko perceraian bisa terjadi dua hingga tiga kali lebih tinggi dari anak yang berasal dari keluarga bercerai. Mereka akan cenderung mengalami hal yang sama di dalam hubungan mereka sendiri. Rasa trauma yang terjadi akibat perceraian akan membuat anak menghindari pernikahan ketika dewasa. Parahnya lagi, mereka bahkan enggan menjalin hubungan akibat trauma yang mendalam. Mereka akan berpikir bahwa pernikahan bukan lagi hal baik. Mereka juga akan kehilangan rasa percaya diri terhadap pernikahan.

8. Berperilaku Merusak

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak korban perceraian lebih berisiko terjerumus dalam perilaku yang memberontak, membolos, merokok, atau bahkan menggunakan obat tanpa resep. Kebiasaan ini biasanya terjadi karena mereka merasa tidak memiliki pendukung. Perasaan kecewa di dalam hidup bisa membuat mereka merasa bebas melakukan semua hal yang mereka mau tanpa peduli risiko yang akan mereka terima setelahnya. Mereka hanya ingin melampiaskan perasaan yang mereka rasakan tanpa peduli baik dan buruknya.

Baca Juga : http://katabunda.com/2019/08/26/kenapa-sih-anak-tega-membully/

9. Kemarahan atau Iritabilitas

Perceraian juga bisa membuat anak marah yang kemudian mereka arahkan pada berbagai sebab yang mereka rasakan pada saat itu, Bunda. Seperti misalnya mereka marah pada diri sendiri, marah pada orangtua dan sebagainya. Rasa marah tersebut bisa saja hilang dalam beberapa hari, tetapi ada pula yang berlangsung lebih lama.

10. Hilang Minat Dalam Hubungan Sosial

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa perceraian juga bisa mempengaruhi anak secara sosial nih Bunda. Mereka cenderung sulit untuk berkomunikasi dengan oranglain, lebih suka menyendiri atau mengasingkan diri dari keramaian. Perceraian bisa membuat si kecil menjadi pribadi yang antisosial dan sulit untuk beradaptasi dengan segala hal yang ada di lingkungannya.

Menurut Psikolog bernama Alzena Masykouri, sebenarnya orangtua tidak sepenuhnya bersalah saat perceraian terjadi di dalam hubungan mereka. Karena dalam beberapa kasus, perceraian adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah di dalam keluarga mereka. “Di dalam perceraian, yang berakhir adalah hubungan suami istri, bukan hubungan orangtua dengan anak. Misalnya dalam satu kasus, perceraian terjadi karena adanya kekerasan di dalam rumah tangga, dan kekerasan ini berlangsung setiap hari. Secara otomatis, dengan bercerai maka kekerasan akan berhenti,” kata Zena, dikutip dari detik.com.

Meskipun begitu, nyatanya setiap perceraian yang terjadi akan meninggalkan luka di setiap anggota keluarga, terutama si kecil yah Bunda. Menurut American Psychological Association, anak yang dibesarkan oleh keluarga yang bahagia akan terlindungi dari masalah mental, fisik dan lain-lain.

Memilih pasangan hidup yang tepat dan saling mengerti untuk tetap mempertahankan hubungan adalah hal yang perlu kita lakukan. Selalu berikan perhatian terhadap pasangan kita yah Bunda dan jangan lupa untuk berterimakasih atas semua hal yang dia lakukan untuk kita. Tentu, setiap pasangan ingin memiliki hubungan yang berjalan dengan baik hingga maut memisahkan.

LEAVE A REPLY