Apakah anak Bunda pernah menjadi korban bully? Jika pernah maka hal pertama yang harus Bunda lakukan adalah menemaninya. Bangkitkan kembali kepercayaan dirinya semampu Bunda, sehingga anak akan tahu bahwa banyak hal menyenangkan di dunia ini selain bully. Tetapi sebelumnya, apakah Bunda sudah mengenal lebih jauh tentang Bullying itu sendiri.

Bullying merupakan perilaku agresif disengaja yang menggunakan ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan dari individu ke individu maupun kelompok terhadap kelompok yang lain.

Bullying berasal dari kata bully. Bullying bisa didefinisikan sebagai perilaku yang dapat melukai seseorang baik secara emosional maupun fisik. Hal tersebut biasanya terjadi karena adanya perbedaan yah Bunda, misalnya perbedaan agama, kondisi fisik, ras, jenis kelamin, dan sebagainya.

Kasus bully ini bisa terjadi kepada siapa saja yah Bunda, tetapi paling sering terjadi pada dunia anak-anak atau remaja. Kita tentu sering mendengar berita tentang pembullyan di sekolah. Hal tersebut tentu saja sangat mengkhawatirkan dan membuat para orangtua menjadi cemas. Apalagi menurut data KPAI pada tahun 2018, kasus bullying atau kekerasan pada bidang pendidikan menjadi kasus yang mendominasi.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, kasus pembullyan menimpa seorang anak asal Malaysia. Hal tersebut dapat diketahui publik saat akun facebook seorang Ibu dengan nama Mell Koleksi Balqis, mencurahkan perasaannya sambil mengunggah sebuah foto dada seorang anak yang di mana terlihat ada pensil tertancap. Ternyata itu merupakan foto anaknya sendiri yang baru saja dibully oleh temannya di sekolah.

Belakangan diketahui ternyata kasus pembullyan tersebut terjadi karena urusan Pekerjaan Rumah (PR). Korban ingin mengumpulkan pekerjaan rumah namun dilarang oleh pelaku. Pelaku marah karena dirinya belum mengerjakan PR yang dimaksud. Korban tetap mengumpulkan PR-nya sehingga membuat si pelaku marah. Kemudian si pelaku pun menusukkan pensil ke dada si korban. Karena pensilnya runcing, alhasil bisa menembus seragam dan menancap ke dada korban.

Sementara itu, di Indonesia pun tepatnya di Tangerang, terjadi kasus pembullyan yang menyebabkan si korban meninggal dunia. Dilansir dari Tribunnews.com, penyebab kematian seorang gadis kelas XI MIPA 3 dari SMA Islam Al Azhar BSD meninggalkan tanda tanya pasalnya beberapa pihak menduga kematian siswi tersebut karena kelelahan latihan, namun sebagian lagi beranggapan karena perpeloncoan oleh senior.

Sumber Foto : planet.merdeka.com
Sumber Foto : Planet.merdeka.com

Aurel diketahui telah dipukuli oleh seniornya hingga lebam-lebam dan dipaksa untuk makan jeruk beserta kulitnya.

Dilansir dari kompas.com, Ayah gadis tersebut pun yang bernama Farid Abdurrahman (42 tahun) mengatakan bahwa putrinya tampak tidak berdaya secara fisik untuk menjalani aktivitas pada pukul 4 pagi dan ambruk seketika. Aurel mengembuskan napas terakhir di rumahnya, Taman Royal 2, Cipondoh, Tangerang, Kamis (1/8/2019).

Mengapa Pembullyan Itu Terjadi?

Kasus pembullyan biasanya terjadi karena adanya perbedaan, dari perbedaan itulah yang membuat si korban terlihat lebih rentan. Namun, meskipun begitu, penyebab kasus pembullyan yang terjadi bisa dilihat dari dua sisi, yakni dari sisi si korban dan si pelaku.

A. Dari Sisi Korban

1. Penampilan Fisik

Ini penyebab kasus pembullyan yang paling umum. Karena ketika ada seorang anak yang memiliki kondisi fisik yang berbeda dari anak yang lain, maka ia akan cenderung terlihat menarik diri dan malu untuk bergaul sehingga akhirnya menjadi sasaran pembullyan karena dianggap lemah.

Para pembully akan menganggap bahwa si korban memiliki keterbatasan atau kekurangan sehingga dapat mereka jadikan bahan untuk mengintimidasi.

Tapi tak hanya fisik yg kurang, anak yang memiliki wajah cantik atau punya kelebihan dari segi fisik pun bisa menjadi korban bully.

2. Terlihat Lemah

Ketika ada anak yang terlihat mudah dimanfaatkan, maka akan rentan menjadi korban pembullyan. Ketidakseimbangan ini menjadi celah terjadinya penindasan. Di sini tentu saja para pembully akan merasa lebih kuat dan mendominasi si korban yang menurut mereka lemah dan tidak mampu melawan. Maka anak-anak yang terlihat lemah cenderung menjadi korban pembullyan.

3. Terlihat Tidak Mudah Bergaul

Seorang anak yang terlihat pendiam dan tidak mudah bergaul atau memiliki sedikit teman, bisa menjadi korban pembullyan. Kelompok pembully juga bisa mengintimidasi kelompok lain yang mereka lihat lebih lemah. Para pelaku akan merasa bahwa kelompok merekalah yang paling berkuasa dan paling kuat.

4. Ras

Hal ini bisa terjadi ketika seorang anak dengan ras yang berbeda memasuki suatu lingkungan dan kemudian ia dianggap sebagai minoritas. Beberapa survey dan penelitian juga sudah membuktikan perihal perbedaan ras yang bisa menjadi celah kasus pembullyan seorang anak saat memasuki lingkungan yang berbeda.

Meskipun karakteristik di atas dapat menjadi penyebab bullying, tapi tentu tidak semua anak dengan karakteristik tersebut menjadi korban bullying. Kondisi tersebut adalah gambaran umum penyebab bullying dari sisi korban, namun penyebab sebenarnya tidak ada yg bisa memastikan. Karena bagaimanapun yang mesti disalahkan adalah pelaku, bukan korban. Mari kita simak biasanya apa penyebab pelaku melakukan bully?

B. Dari Sisi Pelaku

1. Memiliki Masalah Pribadi

Anak yang memiliki masalah pribadi seperti misalnya perceraian orangtua, kekerasan dalam keluarga, adanya anggota keluarga yang menjadi pecandu narkoba atau alkohol, berpotensi menjadi seorang pembully karena merasa dirinya tidak berdaya. Jadi tindakan bully yang ia lakukan terhadap orang lain baik secara verbal maupun fisik dilakukan dengan tujuan menunjukkan kepada orang lain bahwa dia kuat demi menutupi perasaan tidak berdayanya. Semata-mata hanya untuk pembelaan atas diri sendiri.

2. Pernah Menjadi Korban Bully

Ketika seorang anak pernah merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa dirinya, hal tersebut bisa memicunya untuk melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Misalnya seorang adik yang sering menjadi korban pembullyan kakaknya, maka ia akan melampiaskannya dengan membully anak lain yang ia anggap lebih lemah.

3. Mencari Perhatian

Dalam beberapa kasus, seorang anak yang menjadi pelaku pembullyan tidak menyadari bahwa hal yang dilakukannya termasuk penindasan yang merugikan orang lain karena bagi mereka hal tersebut justru malah untuk mencari perhatian dari orang-orang. Biasanya pelaku pembullyan tersebut merupakan seorang anak yang kurang mendapat perhatian dari keluarganya sehingga kemudian ia mencarinya di luar. Perilaku pembullyan jenis ini lebih mudah diatasi dengan cara berikan perhatian dalam hal positif kepada si pelaku sebelum ia mencarinya dengan cara yang negatif.

4. Rasa Iri

Perasaan iri terhadap anak lain bisa membuat seorang anak melakukan pembullyan. Rasa iri ini biasanya muncul karena ada anak lain yang memiliki hal istimewa sama dengan diri si pelaku, kemudian si pelaku melakukan pembullyan demi membuat lawannya tidak menonjolkan kemampuannya. Ia ingin membuat si korbannya menjadi terintimidasi.

5. Berasal dari Keluarga yang Disfungsional

Tidak semua anak dari keluarga disfungsional akan menjadi bullying, namun hal itu kerap terjadi. Sebagian besar pelaku bullying adalah anak yang merasa kurang kasih sayang dan keterbukaan dalam keluarganya. Mereka kemungkinan juga sering melihat orang tuanya bersikap agresif terhadap orang-orang di sekitarnya. (sumber: doktersehat)

6. Kesulitan Mengendalikan Emosi

Dalam hal ini, anak yang sulit mengendalikan emosinya berpotensi menjadi pelaku pembullyan karena ketika ia merasa marah atau kecewa, ia akan melampiaskannya dengan mengintimidasi anak yang lain.

Dari penyebab di atas rata-rata faktor yang mendominasi seseorang melakukan bullying adalah keluarga. Kurang kasih sayang, perceraian, kurang komunikasi dan kesalahan lain. Untuk itu mari Bunda kita bersama-sama memutus aksi bully ini dengan memberikan perhatian kepada anak dan mendidik mereka dengan benar. Karena kita tahu past tidak ada orang tua yang mau anaknya menjadi korban maupun pelaku bully.

Editor : Lisa Haqi

LEAVE A REPLY