Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) telah mengeluarkan surat pernyataan yang berhubungan dengan rencana pemerintah Indonesia dalam melaksanakan program vaksinasi covid-19 di Indonesia. PAPDI memberikan catatan terhadap pasien dengan penyakit penyerta atau komorbid tentang layak atau tidaknya menerima vaksin tersebut. Pada individu yang akan divaksin, jika terdapat lebih dari 1 komorbid atau penyakit penyerta, lalu pada salah satu penyakit tersebut terdapat catatan belum layak, maka dipilih yang belum layak.

Pasien dengan penyakit penyerta yang layak:

1. Reaksi anafilaksis atau bukan akibat vaksinasi covid. Dengan catatan tidak ada bukti reaksi anafilaksis terhadap vaksin covid, maka bisa divaksinasi covid. Namun, harus dengan pengamanan yang ketat dan fasilitas yang lengkap.

2. Alergi makanan ternyata tidak menjadi kontraindikasi dilakukan covid.

3. Alergi obat dapat diberikan vaksinasi covid tetapi harus diperhatikan apakah memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik neomicin, polimiksin, streptomisin, dan gentamisin.

4. Asma bronkial yang terkontrol bisa diberikan vaksinasi covid, tetapi untuk yang akut tidak bisa.

5. Urtikaria jika tidak ada bukti timbulnya akibat vaksinasi covid maka bisa diberikan. Jika ada bukti timbulnya urtikaria akibat vaksinasi covid, maka menjadi keputusan dokter boleh diberikan atau tidak. Pemberian antihistamin dianjurkan sebelum dilakukan vaksinasi.

6. Rhnitis alergi juga tidak menjadi kontraindikasi untuk melakukan vaksinasi covid.

7. Dermatitis atopi tidak menjadi kontraindikasi untuk melakukan vaksinasi covid.

8. Tuberkulosis atau pasien TBC dalam pengobatan layak mendapat vaksin covid minimal setelah dua minggu mendapat obat anti tuberkulosis.

9. HIV pada vaksinasi yang mengandung kuman yang mati/komponen tertentu dari kuman dapat diberikan walaupun CD4<200. Perlu dijelaskan kepada pasien bahwa kekebalan yang timbul dapat tidak maksimal, sehingga dianjurkan untuk diulang saat CD4>200.

10. Penyakit paru obstruktif kronik yang terkontrol dapat diberikan vaksinasi covid. Namun, pasien dalam kondisi PPOK eksaserbasi akut disarankan menunda vaksinasi sampai kondisi eksaserbasi tersebut teratasi.

11. Kanker paru dalam keadaan kemoterapi maupun terapi layak untuk mendapat vaksinasi.

12. Penyakit hati

• Vaksinasi kehilangan keefektifannya sejalan dengan progresifisitas penyakit hati. Oleh karena itu, penilaian kebutuhan vaksinasi pada pasien dengan penyakit hati kronis sebaiknya dinilai sejak awal, saat vaksinasi paling efektif/respons vaksinasi optimal.

• Jika memungkinkan, vaksinasi diberikan sebelum transplantasi hati.

• Inactivated vaccine lebih dipilih pada pasien sirosis hati.

13. Interstitial lung disease layak mendapatkan vaksinasi covid jika dalam kondisi baik dan tidak dalam kondisi akut.

14. Diabetes melitus penderita DM tipe 2 terkontrol dan HbA1C di bawah 58 mmol/mol atau 7,5% dapat diberikan vaksin.

15. Obesitas dengan obesitas tanpa komorbid yang berat.

16. Nodul tiroid Jika tidak terdapat keganasan tiroid.

17. Pendonor darah pada Permenkes RI, donor darah sebaiknya bebas vaksinasi selama setidaknya 4 minggu (untuk semua jenis vaksin). Jika vaksin sinovac diberikan dengan jeda 2 minggu antar dosis, maka setelah 6 minggu baru bisa donor kembali.

18. Penyakit gangguan psikosomatis

• Sangat direkomendasikan dilakukan komunikasi, pemberian informasi dan edukasi yang cukup lugas pada penerima vaksin.

• Dilakukan identifikasi pada pasien dengan masalah gangguan psikosomatik, khususnya ganggguan ansietas dan depresi perlu dilakukan KIE yang cukup dan tatalaksana medis.

• Orang yang sedang mengalami stress (ansietas/depresi) berat, dianjurkan diperbaiki kondisi klinisnya sebelum menerima vaksinasi.

• Perhatian khusus terhadap terjadinya Immunization Stress-Related Response (ISRR) yang dapat terjadi sebelum, saat dan sesudah imunisasi pada orang yang berisiko :

1. Usia 10-19 tahun

2. Riwayat terjadi sinkop vaso-vagal

3. Pengalaman negative sebelumnya terhadap pemberian suntikan.

4. Terdapat ansietas sebelumnya.

Pasien dengan penyakit penyerta yang belum layak:

1. Penyakit autoimun sistemik (SLE, Sjogren, vaskulitis, dan autoimun lainnya)  tidak dianjurkan untuk diberikan vaksinasi covid sampai hasil penelitian yang lebih jelas telah dipublikasi.

2. PGK non dialisis, sindroma nefrotik dengan imunosupresan atau kortikosteroid, PGK dialisis (hemodialisis dan dialysis peritoneal), dan transplantasi ginjal karena belum ada uji klinis mengenai efikasi dan keamanan vaksin tersebut terhadap populasi ini.

3. Pasien dengan infeksi akut yang ditandai dengan demam menjadi kontra indikasi vaksinasi.

4. Sindroma Hiper IgE B tidak dianjurkan untuk diberikan vaksinasi covid sampai hasil penelitian yang lebih jelas telah dipublikasi.

5. Hipertensi belum direkomendasikan mendapat vaksin covid karena belum ada rekomendasi dari tim uji klinis vaksin yang dilakukan di Indonesia.

6. Gagal jantung dan penyakit jantung belum ada data koroner mengenai keamanan vaksin covid pada kondisi tersebut.

7. Reumatik autoimun (autoimun sistemik)

• Sampai saat ini belum ada data untuk penggunaan 

vaksin covid pada pasien reumatik-autoimun.

• Berdasarkan data vaksin-vaksin yang sebelumnya, untuk jenis vaksin selain live attenuated vaccine, tidak ada kontraindikasi pemberian pada pasien reumatik autoimun.

• Pemberian vaksin covid untuk pasien reumatik autoimun harus mempertimbangan risk and benefit kasus per kasus secara individual, dan membutuhkan informed decision dari pasien.

• Pada pasien reumatik-nonautoimun, rekomendasi  vaksinasi sesuai dengan populasi umum.

• Rekomendasi ini bersifat sementara, dan dapat berubah jika didapatkan bukti baru tentang keamanan dan efektifitas vaksin.

8. Penyakit-penyakit gastrointestinal

• Penyakit-penyakit gastrointestinal yang menggunakan obat-obat imunosupresan, pada dasarnya tidak masalah diberikan vaksinasi Covid. Namun, respon imun yang terjadi tidak seperti yang diharapkan.

• Pendataan dan skrining pasien dengan komorbid penyakit autoimun termasuk yang merupakan penyakit autoimun di bidang gastrointestinal, seperti penyakit IBD (Kolitis Ulseratif dan Crohn’s Disease), Celiac Disease, dalam skrining terdapat pertanyaan terkait gejala gastrointestinal seperti diare kronik (perubahan pola BAB), BAB darah, penurunan berat badan yang signifikan yang tidak dikehendaki.

9. Hipertiroid/hipotiroid karena autoimuntidak dianjurkan diberikan vaksinasi covid sampai ada hasil penelitian yang lebih jelas dan telah dipublikasi.

10. Penyakit dengan kanker, kelainan hematologi seperti gangguan koagulasi, pasien imunokompromais, pasien dalam terapi aktif kanker, pemakai obat imunosupresan, dan penerima produk darah belum dapat dibuat rekomendasi terkait pemberian vaksin sinovac pada kelompok ini.

11. Pasien hematologi onkologi yang mendapatkan terapi aktif jangka panjang, seperti leukemia granulositik kronis, leukemia limfositik kronis, myeloma multipel, anemia hemolitik autoimun,  ITP, dll belum dapat dibuat rekomendasi terkait pemberian vaksin sinovac pada kelompok ini.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Penny K. Lukito, mengatakan bahwa efikasi vaksin ini sekitar 65,3 persen sehingga vaksin covid-19 sinovic tersebut memenuhi standar pemberian surat izin edar. “Hasil analisis terhadap efikasi vaksin coronavac (nama vaksin covid-19 sinovic-red) dari uji klinik di Bandung menunjukkan efikasi sebesar 65,3 persen,” katanya dalam konferensi pers seperti dikutip dari health.detik.com

Sebab menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin harus memiliki efikasi minimal 50 persen untuk dinilai cukup mampu menurunkan penyakit.

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof Dr. kusnandi Rusmil mengatakan bahwa dari sebuah hasil uji klinis vaksin sinovac ini tidak memiliki efek samping yang berbahaya. “Kita telah mengikuti enam bulan, apa yang didapat, ternyata kejadian sakit hanya panas ringan, demam sedikit, bengkak ringan, yang dalam dua hari 20 persen sembuh sendiri,” ungkapnya seperti dikutip dari tribunnews.com

Untuk kriteria inklusi penerimaan vaksin ini, masyarakat harus sudah berumur dewasa sehat, yaitu antara usia 18-59 tahun. Masyarakat yang menerima penjelasan juga harus menandatangani persetujuan serta menyetujui peraturan yang berlaku seperti misalnya jadwal imunisasi.

Untuk saat ini Vaksin Covid 19 diutamakan kepada usia Produktif, anak-anak belum dianjurkan.

Namun, sebelum divaksin, kita harus melakukan screening oleh petugas kesehatan. Pertama, kita akan melakukan pengukuran darah. Jika lebih dari 140/90 maka vaksinasi tidak akan diberikan. Lalu kita akan melakukan pengukuran suhu tubuh, jika lebih dari 37 derajat celcius maka vaksinnya akan ditunda.

Sedangkan untuk kriteria eksklusi atau orang yang tidak masuk kategori sebagai penerima vaksin adalah sebagai berikut:

1. Mereka yang sudah pernah terkonfirmasi atau terkena covid-19 sebelumnya, lalu sembuh. Mereka bukan lagi prioritas untuk mendapatkan vaksin.

2. Orang yang sedang mengalami penyakit entah ringan, sedang atau pun berat. Khususnya menderita infeksi atau demam dengan suhu lebih dari 37,5 °c.

3. Mereka yang punya riwayat alergi vaksin misalnya seperti menjadi kemerahan atau sesak napas setelah divaksin.

4. Mempunyai riwayat penyakit pembekuan darah yang tidak terkontrol.

5. Orang yang menderita penyakit kronis misalnya tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, penyakit pada jantung, diabetes, penyakit hati maupun ginjal serta tumor.

6. Memiliki riwayat gangguan saraf.

7. Wanita yang sedang hamil, menyusui maupun mereka yang berencana hamil selama periode imunisasi.

8. Memiliki riwayat gangguan sistem imun, respon imun rendah.

9. Mereka yang mendapat imunisasi 1 bulan ke belakang atau akan menerima lain-lain dalam waktu 1 bulan ke depan.

10. Orang yang berencana akan pindah dari wilayah domisilinya sebelum jadwal imunisasi tersebut selesai.

Terkait dengan rencana pemerintah dalam melaksanakan kegiatan vaksin tersebut, tim Kata Bunda pun mewawancarai salah seorang mahasiswa. “Siap divaksin,” kata Salma saat ditanya apakah siap atau tidak untuk divaksin. “Insya Allah percaya. Manfaatnya kita bisa melindungi diri kita dan orang lain dari covid karena tubuh kita sudah membentuk imunitas untuk melawan virus corona dan resiko terkena covid akan jauh lebih kecil,” sambungnya lebih jelas.

Bagaimana, Bunda? Apakah sudah siap untuk divaksin?

LEAVE A REPLY